Bukan Sekadar Baju Besi: Bedah Teknologi Suit Spaceman

moviescout.org – Kita sering melihat astronaut melayang di angkasa dengan pakaian putih yang ikonik. Akan tetapi, banyak orang salah kaprah dan menganggap pakaian tersebut hanya sebagai seragam kerja biasa. Faktanya, teknologi suit spaceman adalah sebuah mahakarya rekayasa yang sangat rumit.

Pakaian ini lebih tepat kita sebut sebagai “wahana antariksa perorangan” berbentuk manusia. Tanpa perlindungan ini, seorang manusia akan tewas dalam hitungan detik di ruang hampa. Oleh karena itu, mari kita bedah evolusi dan kecanggihan teknologi ini dari masa ke masa.

Fungsi Vital: Kapal Selam Mini di Luar Angkasa

Pertama, kita harus memahami fungsi utamanya. Baju astronaut tidak hanya berfungsi menghangatkan tubuh. Sebaliknya, ia harus melakukan tugas yang sama seperti pesawat ulang-alik.

Teknologi situs spaceman menyediakan oksigen, mengatur tekanan udara agar darah tidak mendidih, dan melindungi pemakainya dari radiasi matahari yang mematikan. Selain itu, lapisan luarnya harus tahan terhadap hantaman mikrometeoroid (debu batu) yang terbang dengan kecepatan peluru. Singkatnya, baju ini adalah benteng pertahanan terakhir antara hidup dan mati.

Era Mercury dan Gemini: Modifikasi Baju Jet Tempur

Pada awalnya, NASA belum memiliki desain khusus untuk ke luar angkasa. Akibatnya, mereka memodifikasi baju tekanan udara milik pilot pesawat tempur angkatan laut.

Baju era Mercury Seven (1959) berwarna perak mengkilap. Tujuannya adalah untuk memantulkan panas. Meskipun terlihat futuristik pada zamannya, baju ini sangat kaku. Astronaut hampir tidak bisa memutar kepala mereka saat tekanan udara aktif.

Era Apollo: Si “Manusia Michelin” di Bulan

Selanjutnya, tantangan berubah drastis saat manusia memutuskan untuk berjalan di Bulan. NASA membutuhkan baju yang fleksibel untuk berjalan, namun tetap kuat. Maka, lahirlah kostum A7L yang terkenal itu.

Baju ini memiliki ransel besar yang berisi sistem pendukung kehidupan portabel (PLSS). Walaupun terlihat sangat tebal dan berat (seperti maskot ban Michelin), baju ini memiliki sendi karet canggih. Hasilnya, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin bisa menekuk lutut dan mengambil sampel batu bulan dengan cukup leluasa.

Era SpaceX dan Artemis: Mengutamakan Estetika dan Fungsi

Kini, kita memasuki era modern. Perusahaan swasta seperti SpaceX mengubah wajah teknologi suit spaceman secara total. Berbeda dengan baju NASA yang gemuk dan penuh selang, baju SpaceX terlihat ramping, minimalis, dan elegan.

Menariknya, Elon Musk menyewa Jose Fernandez, seorang desainer kostum film Batman dan The Avengers, untuk merancang tampilannya. Akan tetapi, baju ini bukan sekadar gaya. Helmnya dibuat menggunakan printer 3D dan sarung tangannya kompatibel dengan layar sentuh (touchscreen) panel kontrol kapsul Dragon.

Di sisi lain, NASA juga sedang mengembangkan baju AxEMU untuk misi Artemis ke Bulan mendatang. Baju ini memungkinkan astronaut wanita dan pria bergerak jauh lebih lincah daripada pendahulu mereka di era Apollo.

Kesimpulan

Evolusi pakaian astronaut mencerminkan kemajuan teknologi material manusia. Kesimpulannya, teknologi suit spaceman telah berkembang dari sekadar modifikasi baju pilot menjadi perangkat canggih yang memadukan keamanan, kenyamanan, dan estetika.

Akhirnya, kita bisa melihat bahwa untuk menjelajahi bintang-bintang, manusia harus membawa “atmosfer bumi” kecil yang melekat di tubuh mereka.

Manakah desain yang paling Anda sukai? Gaya retro Apollo atau gaya futuristik SpaceX?